MEMULAI BISNIS CLOTHING LINE ALIAS KAOS SABLON, MEWASPADAI MUSUH DALAM DIRI SENDIRI.

Bisnis Clothing Line saat ini mengalami lonjakan peminat. Banyak anak muda yang berbondongbondong mencoba peruntungan pada bisnis jualan kaos sablon ini. Ada banyak motif yang menyebabkan banyaknya anak muda dalam bisnis kaos ini, mulai dari karena suka kaos, mencari penghasilan tambahan, diajak teman hingga motif lainnya. Dengan banyak pilihan tema design dan berbagai strategi marketing, menjadikan jualan sablon kaos ini sangat ketat persaingan. Oleh karena itu penulis ingin membagi sedikit pengalaman sendiri melalui artikel ini, agar kita samasama belajar.

Rasulullah SAW, pernah berkata kepada para sahabat setelah mereka dengan gemilang memenangi perang dahsyat; perang badar. Rasulullah berkata, “Bahwa perang yang terbesar dan paling dahsyat adalah perang melawan hawa nafsu di dalam diri kita masingmasing”. Kontan saja para sahabat yang merasa sudah mampu menang dalam perang yang dalam pikiran mereka paling dahsyat itu terkejut dan berpikir ulang.

Perkataan Rasulullah SAW tersebut jika kita renungi dan coba pahami, ternyata adalah dasar dari segala perjuangan hidup manusia. Dalam hal bisnis wirausaha, perang melawan hawa nafsu dalam diri sendiri sangatlah relevan dan benar adanya. Tidaklah berlebihan kiranya, karena ini menjangkiti diri penulis sendiri.

Sebelum lebih jauh kita membahas apa saja yang menjadi kendala dalam diri kita sendiri ketika kita memilih untuk berwirausaha, ada baiknya kita mengenali sedikit wacana wirausaha itu sendiri.

Wirausaha atau entrepreneur (Bahasa Inggris), adalah orang yang beraktivitas melakukan wirausaha yang biasanya bercirikan orang yang pandai menemukan peluang untuk menciptakan produk baru, mengolah produksi produk baru, melakukan manajemen operasi produksi, hingga memasarkan serta mengatur modal operasi produksinya. Maka dengan kata lain, seorang wirausahawan terbiasa menjadi pemimpin dan seorang manager yang baik. Ia mampu mengendalikan semua rantai produksinya seorang diri serta mampu menginspirasi serta memimpin orang yang membantunya agar tujuan produksi tercapai dan berjalan lancar.

Sebagai pribadi sudah pasti seorang wirausahawan dituntut memiliki kepribadian yang sangat kuat serta memiliki cara pandang serta semangat yang tak habisnya. Fokus pada diri sendiri kita inilah yang kemudian menjadi benang merah atas apa yang Rasulullah katakan di awal tulisan ini. Individu yang berkarakter kuat adalah kunci dari kesuksesan sebuah kegiatan wirausaha.

Maka perbaikan individu menjadi sebuah proses yang terusmenerus. Perang melawan hawa nafsu dalam diri menjadi sebuah ritus yang tak pernah selesai hingga kita mampu melakukan sebuah manajemen hawa nafsu yang baik dalam diri.

Poros wirausaha yang fokus kepada diri sendiri ini terjadi karena kita menjadi subjek penggerak. Maka diri menjadi aset yang paling fundamental. Mental seorang wirausahawan haruslah teruji. Jika ketika kita menjadi seorang karyawan maka kita hanya mengikuti aturan dan pembagian kerja yang telah diatur oleh pimpinan dan perusahaan. Akan menjadi beda halnya jika kita terjun ke dalam dunia wirausaha, kita adalah pimpinan sekaligus kita juga adalah karyawannya.

Enak?

Ya enak, waktu kita atur sendiri.

Karena kita yang ngatur waktu sendiri inilah yang sering membuat kita terlena dan berlehaleha. Kondisi mental ini sangatlah wajar karena kita tidak merasa bertanggungjawab pada siapapun, maka sikap sering menggampangkan apapun sering terjadi.

Nah maka perang melawan diri sendiri menjadi keharusan. Beberapa hal ini menjadi menu perang melawan diri sendiri yang sering terjadi dalam diri seorang wirausahawan, antara lain:

1.       Moody, alias mood yang turun naik.

Akibat moody an ini alhasil, banyak agenda kerjaan yang seharusnya harus kita selesaikan menjadi berantakan dan tidak selesai sesuai target yang telah kita tetapkan. “Lagi ga mood nih”, adalah kata sakti pengganti rasa malas yang sedang hinggap. Memang bahwa ketika menjalani wirausaha kita telah menuruti passion kita, atau kita memilih melakukan hal yang kita sukai. Karena pekerjaan ini adalah hal yang kita sukai, kita kerap sekali menjadikan “ga mood” sebagai kambing hitam atas rasa malas kita.

2.       Tidak disiplin waktu.

Karena ini adalah usaha kita sendiri, maka otomatis kita adalah bos atas diri kita sendiri. Hal ini menyebabkan kita hanya bertanggungjawab atas maju atau tidaknya perusahaan kita hanya kepada kita sendiri, sehingga kita cenderung “nyantai” karena tidak merasa memiliki tanggungjawab kepada orang lain. Gampangnya “bisnisbisnis gue ini, terserah gue lah”. Bahayanya, maka kita akan selalu tidak tepat waktu ketika menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggungjawab kita. Jika kondisi ini terus menerus kita abaikan, maka bersiapsiaplah mengalami kegagalan, yang sesungguhnya bukan karena faktor luar akibat persaingan bisnis namun ironisnya hal ini disebabkan oleh karena diri kita sendiri.

3.       Tidak patuh terhadap manajemen keuangan.

Memang modal yang kita gunakan sebagai modal usaha keluar dari kocek kita sendiri atau paling tidak kita menodong uang orang tua. Perasaaan karena modal tersebut bukanlah modal dari orang lain, menyebabkan kita merasa seutuhnya memiliki semua keuntungan yang didapat dari usaha kita. Hasrat konsumtif merajalela, sehingga kita tidak bijaksana dalam penggunaan uang. Keuntungan perusahaan yang seharusnya kita investasikan sebagai modal yang berputar habis, ludes akibat perasaan ini. Lambat laun modal perusahaan habis dan perusahaan akan bangkrut. Lagilagi ironisnya hal ini disebabkan oleh diri kita sendiri.

Sobat, itulah sedikit pengalaman yang pernah saya alami sebagai pelaku bisnis dan hingga saat ini masih dalam kategori pebisnis pemula. Semoga kita dapat terus berproses menjadi seorang invidu yang lebih baik, sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, sebagai seorang pebisnis yang sukses dan dapat bermanfaat bagi orangorang sekitar kita. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Hubungi Kami Sekarang